Selasa, 04 Oktober 2016
Sabtu, 01 Oktober 2016
Selasa, 31 Mei 2016
Membuat Outline (Kerangka Karangan)
Kerangka atau outline adalah
suatu rencana yang memuat garis-garis besar dari suatu susunan yang akan dibuat
dan berisi rangkaian ide yang disusun secara sistematis, logis, jelas,
terstruktur, dan teratur. Sedangkan karangan adalah sebuah karya tulis yang
digunakan untuk menyampaikan suatu gagasan kepada pembaca. Jadi kerangka
karangan adalah suatu suatu rencana atau rancangan yang memuat garis besar atau
ide suatu kaya tulis yang disusun dengan sistematis dan terstruktur.
Fungsi atau Manfaat Kerangka Karangan :
1.
Untuk memudahkan penulisan sebuah karya tulis agar
menjadi lebih sistematis dan rapih.
2.
Untuk mencegah penulis keluar dari ide awal yang akan
dibahas dalam suatu karangan yang akan digarap.
3.
Untuk mencegah penulis membahas suatu ide atau
topik bahasan yang sudah dibahas sebelumnya.
4.
Untuk memudahkan penulis mencari informasi pendukung
suatu karangan yang berupa data atau fakta.
5.
Untuk membantu penulis mengembangkan ide-ide yang akan
ditulis di dalam suatu karangan agar karangan menjadi lebih variatif dan
menarik.
Cara Membuat
Kerangka Karangan :
1.
Merumuskan tema dan menetukan judul suatu karangan
Sebelum membuat
karangan, tentukanlah dahulu tema karangan yang akan dibuat. Tema ini yang akan
mempengaruhi seluruh isi dari karangan yang akan dibuat. Pilihlah tema-tema
yang sedang hangat atau tema yang menjadi kesenangan Anda. Hal ini akan sangat
membatu untuk mengembangkan
karangan.
Setelah
mendaptkan tema, tentukan juga judul karangan yang akan dibuat. Usahakan membuat judul yang singkat dan menarik
pembaca untuk membaca karangan tersebut.
2.
Mengumpulkan bahan
Setelah mendapatkan
tema, yang harus dilakukan adalah mengumpulkan bahan pendukung yang berupa
topik-topik yang berhubungan dengan tema untuk dikembangkan menjadi sebuah
karangan. Topik-topik tersebut
antara lain, pengertian, tujuan, jenis, contoh, dan lain-lain. Catatlah
semua topik yang terlintas di dalam pikiran untuk memudahkan penseleksian bahan
atau topik.
3.
Menseleksi bahan
Setelah mendapatkan
topik, seleksilah topik-topik tersebut yang sesuai dengan tema karangan dan
penting. Hindari membahas topik-topik yang tidak penting untuk di bahas.
4.
Mengembangkan kerangka karangan
Jika sudah
mendapatkan tema, judul dan topik, buatlah karangan yang utuh dengan cara
mengembangkan kerangka karangan yang telah dibuat. Perluas topik-topik yang
telah ditentukan pada kerangka dan usahakan jangan membahas topik yang tidak
ada di dalam kerangka karangan.
Pola Susunan Outline
1.
Pola Ilmiah : Suatu urutan unit-unit kerangka karangan
sesuai dengan kenyataan yang nyata di alam.
·
Urutan waktu : Urutan yang didasarkan pada urutan peristiwa atau
kejadian. Biasanya tulisan
seperti ini kurang menarik minat pembaca.
·
Urutan ruang : Mempunyai hubungan yang sangat erat dengan
ruang atau tempat . Urutan ini biasa digunakan dalam tulisan-tulisan yang
bersifat deskriptif.
·
Urutan topik yang ada : Suatu peristiwa yang sudah di
kenal dengan bagian-bagian tertentu. Untuk menggambarkan hal tersebut secara
lengkap, mau tidak mau bagian-bagian itu harus di jelaskan berturut-turut dalam
karangan itu, tanpa mempersoalkan bagian mana lebih penting dari lainnya, tanpa
memberi tanggapan atas bagian-bagiannya itu.
2.
Pola Logis : Tanggapan yang sesuai dengan jalan pikiran
untuk menemukan landasan bagi setiap persoalan, mampu di tuang dalam suatu
susunan atau urutan logis.
·
Urutan klimaks dan antiklimaks : Urutan ini timbul
sebagai tanggapan penulis yang berpendirian bahwa posisi tertentu dari suatu
rangkaian merupakan posisi yang paling tinggi kedudukannya atau yang paling
menonjol.
·
Urutan kausal : Mencakup dua pola yaitu urutan dari sebab ke akibat
dan urutan akibat ke sebab. Pada pola pertama suatu masalah di anggap sebagai
sebab, yang kemudian di lanjutkan dengan perincian-perincian yang menelusuri
akibat-akibat yang
mungkin terjadi. Urutan ini sangat efektif dalam penulisan sejarah atau dalam
membicarakan persoalan-persoalan
yang di hadapi umat manusia pada umumnya.
·
Urutan pemecahan masalah : Di mulai dari suatu
masalah tertentu, kemudian bergerak menuju kesimpulan umum atau pemecahan atas
masalah tersebut. Sekurang-kurangnya uraian yang mempergunakan landasan
pemecahan masalah terdiri dari tiga bagian utama, yaitu deskripsi mengenai
peristiwa atau persoalan tadi, dan akhirnya alternative-alternatif untuk jalan
keluar dari masalah yang di hadapi tersebut.
·
Urutan umum-khusus : Dimulai dari pembahasan
topik secara menyeluruh (umum), lalu di ikuti dengan pembahasan secara
terperinci (khusus).
·
Urutan familiaritas : Urutan familiaritas
dimulai dengan mengemukakan sesuatu yang sudah di kenal, kemudian berangsur-angsur pindah
kepada hal-hal yang kurang
di kenal atau belum di kenal. Dalam keadaan-keadaan tertentu cara ini
misalnya di terapkan dengan mempergunakan analogi.
·
Urutan akseptabilitas : Urutan akseptabilitas
mirip dengan urutan familiaritas. Bila urutan familiaritas mempersoalkan apakah
suatu barang atau hal sudah dikenal atau tidak oleh pembaca, maka urutan
akseptabilitas mempersoalkan apakah suatu gagasan di terima atau tidak oleh
para pembaca, apakah suatu pendapat di setujui atau tidak oleh para pembaca.
Sumber :
Pra Penulisan Karya Ilmiah
Langkah-langkah menulis setiap
orang berbeda-beda, akan tetapi setiap orang kebanyakan melalui kegiatan
merencanakan, menulis, merefleksikan, dan merevisi. Kegiatan merencanakan meliputi mengumpulkan
bahan, menentukan tujuan, menentukan pembaca, dan membuat krangka tulisan atau
sistematika tulisan. Kegiatan menulis meliputi kegiatan mengembangkan
sistematika yang telah disusun pada tahap perencanaan menjadi sebuah draf atau
konsep tulisan. Pada tahap ini, penulis membiarkan pikiran-pikiran mengalir
tanpa terganggu dengan kaidah-kaidah kebahasaan sampai terwujud sebuah tulisan
utuh. Kagiatan refleksi merupakan kegiatan meninjau kembali draf dari
berbagai aspek misalnya kebahasaannya, kesesuaian dengan rancangan awal,
keruntutan gagasan, dan kemanfaatan tulisan. Kegiatan merevisi merupakan
kegiatan akhir yang dilakukan penulis. Penulis memperbaiki dan menyempurnakan
draf tulisan, termasuk membetulkan kesalahan-kesalahan dari seluruh aspek.
Kerangka
Penyusunan Karya ilmiah terdiri dari:
1. Judul
2. Lembar Pengesahan
3. Abstrak/Ringkasan
4. Kata Pengantar
5. Daftar Isi
6. Daftar Tabel
7. Daftar Gambar
8. Daftar Lampiran
9. Daftar Istilah dan atau Daftar
Singkatan [kalau ada]
10. BAB I Pendahuluan (latar belakang,
identifikasi masalah, maksud dan tujuan, kegunaan penelitian, kerangka
pemikiran)
11. BAB II Tinjauan Pustaka
12. BAB III Bahan dan Metode Penelitian
(bentuk penelitian, subjek penelitian, ukuran sampel, definisi operasional,
variabel penelitian, prosedur penelitian, cara pemeriksaan/pengukuran, analisis
data, tempat dan waktu penelitian, jadwal penelitian, alur penelitian)
13. BAB IV Hasil Penelitian dan
Pembahasan
14. BAB V Kesimpulan dan Saran
15. Daftar Pustaka
16. Lampiran.
Teknik Penyusunan Karya ilmiah Kerangka Penyusunan
Karya Ilmiah. Dalam penyusunan karya ilmiah terdapat lima tahap antara lain.
1. Tahap Persiapan
a. Pemilihan masalah atau topik dan
mempertimbangkan
b. Pembatasan topik atau penentuan
judul
c. Pembuatan kerangka karangan (outline)
2. Tahap Pengumpulan data
a. Pencarian keterangan dari bhn bacaan
atau referensi.
b. Pengumpulan keterangan dari pihak-pihak
yang mengetahui masalah yang akan dijadikan tema dalam karya ilmiah.
c. Pengamatan langsung (observasi) ke
obyek yang akan diteliti dan dijadikan tema dari karya ilmiah.
d. Melakukan percobaan dilabolatorium atau
pengujian data di lapangan.
3. Tahap Pengorganisasian.
a. Pengelompokan bahan untuk
mengorganisasikan bagian mana yang akan temasuk dalam karya ilmiah, data yang
telah terkumpul diseleksi kembali dan dikelompokan sesuai jenis, sifat dan
bentuk data.
b. Pengkonsepan karya ilmiah dilakuakn sesuai
dengan urutan dalam kerangka karangan yang telah ditetapkan.
4. Tahap Pemeriksaan/ penyunting konsep.
a. Melengkapi data yang dirasa masih kurang.
b. Membuang dan mengedit data yang dirasa
tidak relevan serta tidak cocok dengan pokok bahasan karya ilmiah.
c. Mengedit setiap kata-kata dalam karya
ilmiah untuk menghindari penyajian bahan-bahan secara berulang-ulang atau
terjadi tumpang tindih antara tulisan satu dengan tulisan yang lain.
d. Mengedit setiap bahasa yang ada dalam
karya ilmiah untuk menghindari pemakaian bahasa yang kurang efektif, contoh
dalam penyusunan dan pemilihan kata, penyesuaian kalimat, penyesuaian
paragraph, maupun penerapan kaidah ejaan sesuai EYD
5. Tahap Penyajian.
a. Teknik penyajian karya ilmiah harus dengan
memperhatikan segi kerapian dan kebersihan, Tata
letak (layout) unsure-unsur dalam format karya ilmiah, memakai standar yang
berlaku dalam penulisan karya ilmiah.
Sumber :
Langganan:
Komentar (Atom)